Message from A Piano Home Concert
Mendengarkan dan bermain piano itu salah satu hobiku. Tapi kalau disuruh memilih salah satu, aku lebih suka mendengarkan, biar orang lain yang memainkan, soalnya aku nggak terlalu expert di bidang ini, he he he
. Makanya waktu kemaren diminta nemenin adikku konser (home concert tepatnya – cuma buat kalangan sendiri), aku langsung nggak menolak. Pikirku udah lama banget aku nggak dengerin musik-musik klasik gitu, mungkin nada-nada yang bakalan dimainkan ntar bisa mem-booster moodku (maklum, aku orangnya moody banget
). Sampai di sana, di salah satu kafe clubhouse kompleks perumahan elite di Surabaya, udah terpajang satu buah grand piano hitam. Pianis-pianis yang bakalan tampil jumlahnya sekitar 12 orang, mulai dari kira-kira 4 tahun sampai belasan tahun. Dari 12 orang yang tampil (termasuk adikku), menurutku semuanya memukau walaupun nggak semuanya bisa dibilang perfect dalam membawakan lagunya. Beberapa ada yang salah memencet nada, beberapa lagi bingung, dan beberapa juga bisa dibilang hebat. Salah satu yang menonjol itu namanya Angel, masih duduk di bangku kelas 4 SD tapi terlihat nggak kalah hebat seperti guru pianonya. Lagu yang dimainkan terkesan “berat” karena jari-jarinya terus-terusan bergerak ke sana kemari, seakan-akan udah tau kemana harus mendarat selanjutnya tanpa harus diawasi matanya. Ternyata kecakapannya itu harus ia peroleh dengan kerja keras dan susah payah. Neneknya yang mengantar mengatakan kalau tiap hari Angel harus berlatih piano selama 3 jam, mulai dari jam 7 malam di bawah pengawasan mamanya. Orang tuanya juga rela membuatkan satu ruangan khusus untuk meredam suara piano yang ia mainkan setiap hari supaya nggak mengganggu tetangga-tetangganya.
Aku jadi teringat akan masa kecilku dulu. Aku juga pernah ikut les piano selama 5 tahun, dari kelas 1 sampai kelas 6 SD, tapi kemampuanku jauh sekali di bawah Angel. Itu karena aku nggak intens berlatih setiap hari. Mungkin karena nggak ada yang mengawasi ya … Mungkin juga cara mendidik guru pianoku dulu yang menurutku “kurang benar”: seringnya aku diomeli karena kurang lancar, waktu les yang terlalu singkat …. Seandainya saja dulu aku berlatih keras, pasti sekarang aku udah bisa menikmati hasilnya, bisa setara atau bahkan lebih hebat dari Angel. Tapi yah … that was my past … Aku berpikir, mungkin Angel juga kurang menikmati masa-masa kecilnya yang dihabiskan dengan berlatih piano. Tidak ada yang tahu sebenarnya itu baik atau tidak, tapi orang tua Angel pasti memikirkan yang terbaik bagi masa depannya …
Tujuan dari home concert itu sebenarnya bukan ingin melihat siapa yang paling hebat, tapi lebih kepada melatih keberanian anak-anak itu tampil di depan publik, melatih keberanian mereka dalam mengalahkan ketakutan dan diri mereka sendiri, melatih bagaimana mereka dapat menghibur pendengar dengan lagu-lagu yang mereka mainkan. Dan menurutku anak-anak itu semuanya …. berhasil !!!
So, jangan pernah patahkan semangat anak-anak dan adik-adik kita untuk terus belajar dan belajar. Mungkin hasilnya belum bisa kita nikmati sekarang. Asalkan semangat mereka belum padam, pasti kelak mereka bisa menjadi pianis-pianis yang sukses. Amin!
(Congrats too my sister ! I’m proud of you …)






anggia
haii….
May 26th, 2009 at 11:28 amguw anggia, sekarang ini guw lagi ikut belajar piano yaaa baru 5 bulan sihh..
hhahhahahahh
tapi guw udah ngerasa bosen sama not-not balok yang bikin pusing..
sebenernya guw pengen berhenti kursus tapi guw pikir sayang coz menurut temen-temen guw kesempatan itu gag dateng dua kali..
ada benernya juga sihh..
nenurut lo biar guw gag jenuh sama not balok guw mesti ngapain??
di balezz cepett yaa..
ooiiya !!!
salam kenal..